Loading...

QURBAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK

QURBAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK

Oleh : Sumardi Kluet






DALAM Islam, kisah Nabi Ibrahim yang diminta Allah memberikan Qurban yakni anaknya Ismail, yang sangat dicintainya adalah sebuah peristiwa bersejarah yang tak dapat dilupakan kaum Muslimin.

Bagaimana tidak, ketika pisau sudah siap di ujung leher Ismail yang sholeh, Allah menggantinya dengan seekor kambing.

Sungguh sebuah kejadian yang mengguncang jiwa, tapi meninggalkan sebuah pesan cinta agar manusia selalu siap menaati perintah-Nya.

Melalui peristiwa itu, Allah juga secara nyata memberikan sebuah model pendidikan karakter dan spiritual yang indah, yakni semangat kerelawanan, ketulusan, ketaqwaan dan keikhlasan untuk generasi pasca Ibrahim dalam menegakkan perintah Allah Subhanahu Wata’ala 

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]

Secara tegas, menyembelih hewan qurban adalah hari kemenangannya manusia yang bertauhid yang menjalankan perintah Allah dengan menyelisihi kaum musyrikin dalam peribadahan dan penyembelihannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al Hajj : 34)

Sedangkan jika dipandang dalam perspektif pendidikan karakter, perintah berqurban meninggalkan beberapa hikmah mendalam untuk generasi kini dan mendatang.

Pertama, qurban bertujuan mendidik keimanan dan ketaqwaan seorang Muslim kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Wujud keimanan adalah kepasrahan total atas perintah Allah serta siap menerima ujian yang diberikan dengan penuh kesabaran. Ketika dua hal itu, pasrah dan sabar sudah mampu diinternalisasikan dalam kepribadian seorang Muslim, dirinya akan mudah menjadi pribadi yang bersyukur atas segala kebaikan dan kelebihan baik material maupun immaterial yang diberikan Allah.


Kedua, menumbuhkan empati kepada kalangan yang secara materi tak mampu seperti kalangan fakir, miskin, anak yatim dan dhuafa. Menjalankan perintah qurban bagi seorang Muslim, sama dengan mengikuti keteladanan sosial Ibrahim.

Dan berbahagialah jika kita termasuk manusia yang mampu menciptakan empati kepada sesama manusia, sebab Allah menjamin kebaikan tanpa batas di dunia dan akhirat. Dapat dibayangkan, pahala ganda menanti setiap Muslim yang berqurban yakni setiap penerima hewan qurban akan mendoakan kebaikan dalam hidup orang yang berqurban, Allah pun memberikan ganjaran pahala dan jaminan syurga di akhirat kelak.

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Mumtahanah : 6)

Dengan demikian, kisah Ibrahim dan Isma’il ini jika direnungkan secara mendalam memberikan nilai-nilai kebaikan seperti Muslim (berserah diri), mu’min (komitmen dan amanah), hanif (lurus, jujur dan benar), qanit (tunduk, loyal dan taat asas), shalih (baik, patut),shiddiq (jujur, benar), halim (santun, lembut, cerdas, dewasa), syakir (berterima kasih, apresiatif), awwah (berintrospeksi diri, terus berada di jalan yang benar), munib (kembali ke jalan yang benar, mengikuti suara hati nurani) dan khalil (kasih sayang). 

Terlepas dari polemik pelaksanaan ibadah qurban atau Idul Adha sebenarnya ada terkandung nilai sosial dan religius yang dapat dikembangkan untuk pengembangan karakter siswa. Beberapa sekolah baik sekolah umum maupun berbasis agama melaksanakan latihan berkurban. Kegiatan berkurban ini terkandung nilai-nilai karakter yang baik. Pendidikan karakter yang dikembangkan sejalan dengan pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah yaitu revolusi mental. Revolusi mental yang dimaksud karakter mau berbagi.

Berqurban merupakan berlatih untuk berbagi, menghormati perbedaan baik tata cara pelaksanaan ibadah qurban, maupun hari pelaksanaannya.

Berkurban sesuai dengan tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:
Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
Mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Terakhir penulis mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M ___ semoga kita dapat memetik semua hikmah di baliknya.




Penulis merujuk dari berbagai sumber informasi dan tulisan.




Daftar Sumber :

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2014/10/06/30805/qurban-pendidikan-karakter-dan-cinta.html

https://dikpora.bantulkab.go.id/berita/209-implementasi-nilai-nilai-ibadah-kurban-dalam-pendidikan-anak

http://www.kompasiana.com/pakpurnomo/ibadah-qurban-dan-pendidikan-karakter-bagi-siswa_560237b9727a61950c860609)


Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
Ijan
AUTHOR
21 Agustus 2018 pukul 22.50 delete

Keren artikel nya pak sumardi.. km tunggu karya lainnya... Sukses ya sobat...

Reply
avatar